Cooking With The Chef

VCD Tutorial Memasak

VCD Tutorial Tata Boga dan Patiseri

Jl.Raya Jemursari 244, Surabaya.

Pages

Jumat, 29 Mei 2015

Pelatihan UKM : Jamu Tradisional di Tristar Institute



Erni Yuniati Rintis Usaha Jamu Tradisional

Kursus Private di TCI

UPAYA melestarikan minuman jamu tradisional yang menyehatkan dan menyegarkan badan, mendorong Erni Yuniati (35) untuk merintis usaha jamu skala rumah tangga (home industry) sejak dua tahun terakhir di Purwosari Kabupaten Pasuruan. Usaha rumahan jamu dengan merk Si Mbok  yang dirintis Erni Yuniati sampai saat ini baru mempekerjakan dua orang.


Tantangan yang sampai saat ini belum terpecahkan adalah bagaimana membuat jamu tradisional Jawa seperti beras kencur, kunci suruh, sinom dan temulawak, yang diproduksinya itu bisa tahan lama. Selama ini, produksi jamu tradisional dalam kemasan tanpa bahan pengawet yang diproduksinya hanya sanggup bertahan 10 hari saja.
Padahal beberapa waktu lalu dirinya menerima tantangan dari sejumlah klien untuk memasok toko swalayan bagaimana jamu yang diproduksinya itu bisa tahan lebih lama saat di-display di outlet-outlet toko swalayan di Jatim, Bali hingga Kalimantan.

”Untuk mencari solusi atas kendala tersebut kami searching di internet, ternyata kami mendapat info jika Tristar Culinary Institute (TCI) sanggup membantu mengatasi sekaligus memberikan tips bagaimana mengatasi terbatasnya daya tahan jamu tradisional dalam kemasan,” terang Erni, sapaan akrab Erni Yuniati kepada matoasbynews.blogspot.com, kemarin.


Makanya tidak salah jika kemudian dirinya memutuskan mengambil kursus private jamu tradisional dengan biaya Rp 1,5 jutaan. Materi pelatihannya sendiri meliputi tata cara membuat jamu beras kencur, kunci suruh, sinom dan temulawak baik dan benar sesuai ketentuan Good Manufacturing Practices (GMP). Pelatihan teknologi pangan itu dihelat di laboratorium TCI Jl Raya Jemursari 234 Surabaya, Rabu (14/4).

Selama pelatihan tersebut, Erni Yuniati dibimbing langsung oleh instruktur senior TCI, Sari Kusumahati Ssi, Apt dibantu asisten Ir Indah Fitriana. Pelatihan yang lebih mengedepankan sharing ilmu itu berjalan lancar sejak persiapan bahan baku dan peralatan, proses produksi hingga teknik pengemasannya dalam botol serta tips mengolah usaha jamu tradisional dalam skala rumah tangga.

Biasanya, menurut Sari Kusumahati, dalam merintis usaha rumahan (home industry) makanan dan minuman, kendalanya antara lain adalah lemahnya pengetahuan bahan, minimnya pengetahuan soal sterilisasi karena kondisi dapur yang terkontaminasi jamur dan bakteri, teknik pengemasan yang masih apa adanya, kualitas produk yang belum bisa diandalkan hingga penanganan yang kurang hati-hati selama pendistribusian barang.

Untuk persiapan bahan baku yakni tanaman kencur, daun sinom, temulawak, kunci, daun suruh (sirih), buah asam, jahe, produsen minuman jamu tradisional wajib tahu dari pemasok seputar kapan panen, musim hujan atau kemarau (karena ini terkait dengan kandungan kimiawi bahan baku tersebut) hingga bagaimana cara penyimpanan bahan baku tersebut agar kualitasnya tetap terjaga dengan baik.

”Idealnya, untuk menjaga kualitas bahan baku terjaga dengan baik, bahan baku jamu untuk stok itu disimpan dalam freezer. Ini punya peranan tidak kecil dan tidak bisa diabaikan begitu saja karena ini akan mempengaruhi kualitas jamu yang diproduksi,” ujar Sari Kusumahati, memberi tips.


Selain itu, lanjut Sari, untuk mengatasi hambatan ketahanan jamu kemasan saat disimpan sebelum dikonsumsi, pengetahuan terhadap bahan pendukung dan bahan penolong seperti penggunaan bahan pengawet minuman Na­-Benzoat (setiap 1 liter olahan jamu ditambah 0,05 gram Na-Benzoat). Penambahan Na-Benzoat sampai dosis tertentu ke dalam bahan jamu akan menambah daya tahan jamu kemasan sampai setahun.

”Begitu juga penggunaan pemanis buatan Siklamat (1 gram Siklamat = 100 gram gula pasir) atau Aspartam (1 gram Aspartam = 200 gram gula pasir) dengan alasan menghemat biaya pengadaan gula pasir untuk pemanis jamu. Penggunaan bahan pengawet minuman dan pemanis buatan jadi bahan pertimbangan karena hal ini juga terkait dengan aspek perlindungan konsumen,” jelasnya.

Tips lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana melakukan tindakan sterilisasi botol kemasan sebelum diisi jamu. Untuk melakukan teknik sterilisasi yang hemat, Anda cukup  menggunakan alkohol 70 persen 600 ml untuk menyeterilkan 1.000 botol ukuran 600 ml dan tutup dengan teknik sederhana, mulai celup, isi (tuang), kocok, bilas dan keringkan di tempat bersih dengan posisi terbalik.



”Sterilisasi ini tujuannya untuk membunuh kuman-kuman penyakit baik jamur dan bakteri yang bisa menyerang makanan dan minuman olahan, akibat penanganan yang kurang baik selama proses produksi sehingga makanan dan minuman itu terkontaminasi,” katanya mengingatkan. (ahn)

Pelatihan Pembuatan Kapal Speedboat dari Fiberglass



TCI Layani Pelatihan Membuat Speedboat

Materialnya dari Fiber Glass

TRISTAR Culinary Institute (TCI) selama delapan hari sejak 20 April hingga 27 April 2015  melayani pelatihan membuat model miniatur kapal boat (speedboat) dari bahan fiber glass kepada tujuh orang karyawan perusahaan budidaya mutiara Firma Nusantara Group, dengan dipandu langsung oleh instruktur TCI Muhammad Ashari.

Yang tampak istimewa dari pelatihan itu, selain diikuti karyawannya, Manager Firma Nusantara Sin Ci dan Alam asistennya, ikut proaktif mendampingi pekerjanya, karena mereka juga jadi peserta pelatihan pembuatan speedboat yang mengambil tempat di area parkir TCI Jl Raya Jemursari No. 234 Surabaya.

Sebelum memutuskan belajar mengikutkan karyawannya belajar membuat speedboat di Surabaya, kelompok usahanya yang punya enam perusahaan budidaya mutiara di Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku dan Papua selama ini cenderung membeli speedboat untuk mendukung operasional di lapangan.

”Saat ini, kami baru mengoperasikan 11 unit speedboat.  Jumlah tersebut dirasa masih kurang karena tantangan budidaya mutiara di Indonesia Bagian Timur cukup berat terutama dalam menghadapi aksi perompakan dan ganasnya ombak di seputar kawasan budidaya mutiara,”  ungkap Sin Ci, Manager Firma Nusantara Group kepada matoasbynews.blogspot.com di sela-sela pelatihan kemarin.

Dari seluruh speedboat yang dioperasikan kelompok usaha Firma Nusantara semuanya dipesan dari Jakarta. Nah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2015 ini, perusahaan berencana membuat sendiri speedboat untuk mendukung operasional sehari-hari.

”Untuk itu kami mengajak beberapa karyawan yang akan ditugaskan memproduksi speedboat sendiri, disekolahkan lebih dulu di sini dan mereka kami damping langsung agar semangat  kerjanya tidak kendor,” kata Sin Ci di dampingi asistennya Alam, serta instruktur dari TCI Muhammad Ashari dan Nursanti.

Pada tahap pertama, pihak perusahaan baru mengirimkan 6-7 karyawan untuk mengikuti pelatihan membuat speedboat dari bahan fiber glass ini. Namun di masa mendatang tidak menutup kemungkinan jika pihak perusahaan akan mengirimkan karyawannya yang lain untuk mengikuti pelatihan membuat speedboat ke Jawa.

”Seluruh biaya pelatihan ditanggung perusahaan.  Biaya pelatihan yang dipatok TCI sekitar Rp 8,75 juta per orang selama delapan hari kerja. Biaya itu sudah termasuk sertifikat dan makan siang.  Bahan-bahan dan peralatan pelatihan mulai tripleks, resin untuk bodi kapal, cat, foam, dan sebagainya disediakan TCI ,” ujarnya.

Muhammad Ashari dari TCI menerangkan bahwa pelatihan membuat speedboat ini baru sebatas model bukan ukuran yang sesungguhnya. Karena itu, pelatihan selama delapan hari merupakan batasan minimal untuk membuat model miniatur speedboat berukuran panjang 2,1 meter dengan lepas 1,05 meter.

Peserta pelatihan dibekali pengetahuan dasar tentang pemilihan bahan yang tepat  untuk skala marine. Untuk membuat model (desain kapal) bisa secara manual dan komputerisasi. Untuk memudahkan praktik secara manual, pihaknya membuat simulasi dari bahan stereofoam (gabus) baik foam biasa maupun liquid foam.

Selain itu, tripleks dengan ketebalan 12 milimeter  dipotong sesuai kebutuhan untuk membuat cetakan lunasnya baik cetakan dalam maupun cetakan luar (cup). Karena itu, jika mengacu pada ukuran speedboat sesungguhnya yakni panjang 8-9 meter dan lebar 2,1 meter dengan dilengkapi mesin tempel 100 PK x 2, maka pekerjaannya sejak awal sampai finishing membutuhkan waktu sampai tiga sampai empat bulan.

Sementara itu penggunaan mesin tempel 100 PK x 2 dimungkinkan karena speedboat ini selain untuk mendukung operasional sehari-hari juga untuk patroli  karena ancaman perompak di area budidaya mutiara cukup tinggi. ”Pasalnya kapa boat penjahat rata-rata memiliki kecepatan 85 PK x 2, maka kami menyiapkan speedboat yang berkapasitas mesin 100 PK x 2 agar bisa mengejar penjahat,” ungkap Sin Ci menambahkan.

”Berdasarkan pengalaman kami melayani pesanan klien, rata-rata pembuat speedboat dengan ukuran standar butuh waktu empat bulan baru barangnya diserahkan kepada pihak pemesan. Beberapa pembuat speedboat yang kami ketahui yakni Javanese Boat, Boat Indonesia (keduanya di Jakarta) dan Fiberindo (Surabaya),” terang Ashari sapaan karib Muhammad Ashari.

Pihak TCI juga membekali peserta pelatihan tentang pengenalan resin untuk standar kapal (resin untuk marine). Untuk lambung kapal boat ukuran panjang 9 meter dan lebar  2,1 meter, lapisan resin dirancang sampai 7 layer, sedangkan  lapisan bawah (dasar kapal) tebal lapisannya antara 8-9 layer. Speedboat ukuran ini bisa dimuati 4-5 orang plus sejumlah barang dan peralatan kerja.

Masih menurut Ashari, resin secara umum bisa juga untuk membuat souvenir seperti patung-patungan dan aneka model cendera mata yang lainnya. (ahn)