Cooking With The Chef

VCD Tutorial Memasak

VCD Tutorial Tata Boga dan Patiseri

Jl.Raya Jemursari 244, Surabaya.

Selasa, 17 Mei 2016

Akademi Pariwisata Majapahit – Mojokerto

Akademi Pariwisata Majapahit – Mojokerto

Antusias Mahasiswa Belajar Praktek
Berbagai Produk Pastry
Belajar tentang Perhotelan yang ada di Akademi Pariwisata Majapahit Mojokerto ini salah satu jurusan yang menarik untuk diikuti. Tidak hanya belajar tentang bagaimana mengelola pelayanan di bidang perhotelan, tentunya jurusan ini juga mengembangkan pendidikan akademik mahasiswa melalui kegiatan praktek. Salah satu mata kuliah khusus yang berkaitan tentang perhotelan dijurusan ini adalah belajar pastry. Nah, bagaimana antusiasnya mahasiswa Akademi Pariwisata Majapahit Mojokerto saat praktek berbagai produk Pastry?

Mahasiswa D3 Akpar Majapahit Mojokerto Gelar ”Surabaya Passion Tour”

Aplikasikan Mata Kuliah Tour Programming & Tour Document

Mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata Akpar Majapahit Mojokerto Gelar ”Surabaya Passion Tour”

SETELAH Akpar Majapahit Surabaya sukses menghelat Historical Surabaya City Tour (HSCT) pekan pertama April 2016, sekarang giliran Akpar Majapahit Mojokerto --lembaga pendidikan tinggi di bawah payung Tristar Group-- menghelat Surabaya Passion Tour (SPT) yang diikuti 11 orang mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) pada Kamis (14/04/2016).

 

 

Mahasiswa D3 Akpar Majapahit Warnai Kesuksesan Acara Travex MTF 2016

Travel Exchange MTF Dihelat di Hotel Bumi Resort Surabaya

Mahasiswa D3 Akpar Majapahit Warnai Kesuksesan Acara Travel Exchange Majapahit Travel Fair (MTF) 2016 (Naskah ke-1, dari Dua Tulisan)
GELARAN acara Majapahit Travel Fair (MTF) ke-17 Tahun 2016 selama empat hari mulai 14-17 April 2016 di Grand City Surabaya yang mengusung tema ”East Java Marine Tourism. The Hidden of Paradise,” baru saja berakhir. Penyelenggaraan MTF 2016 menguatkan posisi destinasi wisata Jawa Timur semakin dikenal di dalam maupun luar negeri.




Travex MTF 2016 Bukukan Komitmen Transaksi Rp 52,31 Miliar

Travel Exchange MTF Dihelat di Hotel Bumi Resort Surabaya

Travel Exchange Majapahit Travel Fair (MTF) 2016 Bukukan Komitmen Transaksi Rp 52,31 Miliar (Naskah ke-2, Selesai)
KEGIATAN Travel Exchange (Travex) dalam rangkaian acara Majapahit Travel Fair (MTF) ke-17 Tahun 2016 di Hotel Bumi Resort Surabaya, selama empat hari, 13-16 April 2016, berhasil membukukan 4.482 appointment (kesepakatan), yang terdiri dari 34 persen transaksi, 18 persen bargaining (tawar menawar), dan sisanya 48 persen baru sebatas perkenalan.




Senin, 16 Mei 2016

Tristar Institute IEU – Entrepreneur

Tristar Institute IEU – Entrepreneur

Peluang Bisnis Makanan Jepang
Makin Laris & Disukai

Berangkat dari keinginan untuk belajar entrepreneur (kewirausahaan), mahasiswa Tristar Institute IEU membidik usaha makanan yang berlebelkan “NAOMI Japanese Corner” yang ditawarkan di ajang festival kuliner. Dalam kegiatan entrepreneur ini produk makanan yang dijual memadukan kuliner Jepang yang rasa dan penampilannya begitu menarik untuk dinikmati. Penasaran menu kuliner Jepang apa saja yang bisa berpeluang sebagai bisnis?

Selasa, 15 September 2015

Sekolah Patiseri di Jakarta - Baking & Pastry School



Tristar Institute BSD
Mengintip Perkuliahan Praktik Kelas Patiseri


Bagi mahasiswa Tristar Institute BSD belajar di kelas Patiseri banyak memberikan pengetahuan dalam membuat berbagai macam kue hingga menjadi produk yang bercitarasa tinggi dan bernilai jual.

Kamis, 06 Agustus 2015

Cocholate and Cake Decoration @ Advanced Pastry Class Jakarta & Surabaya



Berbicara tentang cokelat selain memberi sensasi rasa manis di lidah juga memiliki serangkaian karakter yang dapat diciptakan dari cokelat. Nah untuk memperlakukan cokelat menjadi produk makanan yang eksotik dalam tampilan dan citarasanya, pastinya diperlukan pemahaman tersendiri.


 Seperti yang dibuat oleh mahasiswa Akpar Majapahit kelas Pastry Advanced dalam praktik mata kuliah mengenai pengetahuan tentang Chocolate & Cake Decoration. Ada 10 produk pastry berbahan cokelat yang dikombinasikan dengan beragam bahan lain. Diantaranya, Green Tea Coffee Cake, Coconut Pandan Entremet, Chocolate Banana Hazelnut, Peach Iced Tea, Chocolate Peanut Butter and Jelly, Citron, Lemonade Tiramisu, Lychee Yoghurt, Chocolate Mandarin Caramel, dan Mango Entremet.


    
 Menurut chef Valentinus selaku dosen pastry, hampir semua produk yang dipraktekan ini memanfaatkan cokelat sebagai salah satu ingridien untuk berkreasi. Cokelat bisa dikombinasikan dengan berbagai bahan lain untuk menghasilkan citarasa baru, atau tampilan yang secara artistik lebih mempesona.



Pasti keren bukan, tampilan produk “Chocolate & Cake Decoration” yang dibuat oleh mahasiswa Akpar Majapahit kelas Pastry Advanced? Sudah tidak diragukan lagi, kelas Pastry Advanced yang ada di kampus Akademi Pariwisata Majapahit memberikan ruang belajar bagi Anda dalam berkreatifitas di dunia pastry untuk menjadi pastry chef profesional. *Upi


Kampus Akademi Pariwisata Majapahit
Kampus Mojokerto | Jl. Raya Jabon KM 07, Mojokerto
E-mail : akparmajapahit@gmail.com

Graha Tristar | Jl. Raya Jemursari 244, Surabaya
Tel. (031) 8480821-22. 8433224-25. 8410109
Hp. 081233752227, 081234506326
Blackberry PIN : 2A1CE131 ; 2B517ECB ; 2B425821 ; 53B4EFD8
Fax. (031) 8432050

www.majapahit.org / www.matoa.info

Selasa, 21 Juli 2015

Ujian Praktik Tataboga S1 International Culinary Business - Juli 2015




  
Mengusung tema Menu Banquet dengan sajian western dan tradisional, puluhan masakan yang mewah ini begitu cantik tertata diatas meja. Dalam ujian praktik, mahasiswa S1 International Culinary Business dituntut untuk bisa menguasai materi teknik memasak, sehingga mampu menghasilkan karya produk makanan yang bercitarasa tinggi dan memiliki nilai jual.  


Hanya dengan waktu kurang lebih 90 menit, mahasiswa harus mampu me-manage waktu yang telah ditentukan untuk membuat produk appetizer dan main course yang punya sensasi rasa dan seni. Kehadiran makanan dengan tampilan yang menarik, citarasanya enak dan penyusunannya yang cantik, pastinya cukup menyita perhatian. Penasarankan?

“Pelaksanaan ujian di triwulan kedua ini, selain membuat produk makanan, mahasiswa juga harus menghitung HPP (harga pokok penjualan), dengan harapan agar mereka bisa memperkirakan budget-nya. Dan standarisasi penilaian ujian meliputi, kreatifitas, tekstur dan rasa. Dengan begitu mahasiswa akan tertantang untuk bisa menciptakan produk dan mampu bersaing di dunia bisnis industri makanan yang sebenarnya, ungkap Chef Yuda Agustian saat ditemui disela-sela waktu ujian.


Chef Yuda & Chef Della (Ujung kiri & kanan)
Ia juga menambahkan, bahwa pelaksanaan ujian kali ini sedikit berbeda. Ditengah-tengah aktifitas memasak, mahasiswa kita (chef Yuda & Chef Della) beri pertanyaan seputar produk makanan yang mereka buat, mulai dari penangganan bahan, teknik memasak hingga bagaimana penyajiannya. Ini menjadi salah satu tolak ukur penilaian bagi mahasiswa dengan diuji kemampuannya” pungkasnya.

Chef Yuda & Cindy Yosan, mahasiswa S1 International Culinary Business
 Bagi Cindy Yosan, perasaannya saat ujian praktik ini cukup senang, karena tema konsepnya sudah dipersiapan dengan 2 kreasi menu pilihannya sendiri, yaitu Chinyo Canape dan Fried Chicken with Kuluyuk Sauce & Rice with Capsuey. Dan di ujian kali ini harapannya ingin membuktikan bahwa karya produknya bisa lebih baik dan layak jual,’ ungkap mahasiswa asal Selat Kapuas, Kalteng ini.




Secara keseluruhan, ujian triwulan kedua ini berjalan dengan baik dan penuh kreatifitas. Hal ini menunjukkan keseriusan belajar dari para mahasiswa S1 International Culinary Business untuk mendalami perkuliahan. Anda ingin pandai seperti mereka ? Kuliah S1 International Culinary Business di Kampus IEU yang ada di jl. Raya Dukuh Kupang No. 157B bisa menjadi pilihan dan rasakan suasana pengajaran kuliner yang begitu nyaman. *Upi



S1 Education Program
“International Culinary Business”

IEU (Indonesian European University)
Surabaya || Jl. Raya Dukuh Kupang No. 157B

Graha Tristar || Jl. Raya Jemursari 244 Surabaya
Ph. 081233752227 – 081234506326
Blackberry PIN : 2A1CE131 ; 2B517ECB ; 2B425821 ; 53B4EFD8
www.kuliah-sambil-kerja.com
www.tristarculinaryinstitute.com

www.ieu.ac.id

Selasa, 07 Juli 2015

S1 International Culinary Business


Belajar Cost Control Untuk Menu Buffet

Dalam program perkuliahan S1 International Culinary Business, mahasiswa diarahkan untuk menjadi calon entrepreneur andal di bidang kuliner. Perkuliahan dengan sistem lebih banyak praktek dan diajarkan langsung bagaimana berbisnis kuliner. Bahkan, para mahasiswa juga diajak untuk belajar menciptakan bisnis, karena ini yang sangat penting, disamping masalah pemasarannya.




Tampak pemandangan kesibukan mahasiswa S1 International Culinary Business praktik materi kuliah Menu Catering untuk dijadikan peluang bisnis. Bertepatan dengan momen Ramadan, mahasiswa mendapat tawaran pesanan membuat Sajian Menu Spesial Berbuka Puasa secara Buffet. 

Chef Yuda (paling kiri)

Chef Adeline (Kanan)
Dipandu oleh Chef Yuda dan Chef Adeline, selaku dosen pengajar, mahasiswa diajak untuk membuat beberapa Menu Asian food serta Indonesian food yang sesuai dengan materi di silabus.
“Dalam materi perkuliahan Pengolahan Menu Catering yang diajarkan selama 10 kali pertemuan, acara buffet ini salah satu bentuk pembelajaran berbisnis kuliner. Disamping praktik membuat produk masakan dalam jumlah banyak, mahasiswa juga harus belajar mengetahui bagaimana menghitung dan mengendalikan segala biaya untuk sebuah produk makanan agar diketahui harga jual dan value- nya” Ungkap Chef Adeline yang kerap disapa Chef Della ini.

Dalam penyajian jamuan makan buffet, mahasiswa S1 International Culinary Business telah menyiapkan berbagai varian hidangan menarik dari makanan pembuka hingga varian menu utama dan penutup yang istimewa. Antara lain ada Ramadan Tajil buah kurma dan minuman hangat (teh & kopi), lalu menu istimewa yang wajib dicoba seperti sup timlo, bistik lidah, ayam saus lemon, dan es Manado. Tamu dapat menikmati buffet menu spesial buka puasa dengan harga istimewa yaitu hanya Rp 35.000. Wow, harga yang cukup murah dengan menu yang istimewa, lho !


 Lantas bagaimana untuk menentukan harga jual dari produk makanan? Dalam program bisnis kuliner, mahasiswa diarahkan untuk dapat belajar menghitung harga pokok penjualan (HPP). Pada perhitungan modal pokok usaha di bidang kuliner, akan lebih konkret bila menghitung total biaya yang dibutuhkan untuk membuat sebuah resep makanan kemudian dibagi dengan berapa porsi makanan yang dihasilkan dari resep tersebut. Begitu juga pada produk makanan lainnya yang ada dalam setiap resep menu buffet.

Biaya-biaya lain seperti gas, tenaga kerja, listrik, transpor, dan biaya operasional lainnya tidak dimasukkan ketika menghitung modal pokok. Tujuannya agar harga modal seporsi jelas lebih murah dan dapat bersaing di pasaran. Akan lebih tepat biaya operasional yang dikeluarkan dihitung setiap minggu yang diperoleh atau bulan baru dikurangi dari keuntungan kotor yang diperoleh.
Biaya operasional tersebut dapat diperhitungkan dari pengurangan keuntungan kotor dan penjualan usaha. Mengapa perhitungannya biaya seperti gas, upah, listrik bila dimasukkan ke dalam modal pokok selain jumlahnya abstrak (tidak bisa di pastikan atau kira-kira) maka modal pokok seporsi akan jatuh lebih mahal penjualannya sehingga agak sulit bersaing harga.

Mahasiswa S1 International Culinary Business diberikan contoh langsung pemahaman tentang cost control praktik untuk acara jamuan makan buffet ini, dengan harapan bisa mengestimasi bagaimana cara menghitung sebuah harga jual produk. Penetapan sebuah harga jual tentu akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kenaikan harga beli bahan di pasaran, kenaikan bahan baku dan lainnya. “Agar sebuah produk bisa tetap bertahan di pasaran sebaiknya jangan pernah menurunkan kualitas produk yang  diproduksi” pungkas Chef Adeline menerangkan. Mahasiswa pun mangaku senang mengikuti perkuliahan ini mengingat manfaat pengetahuan bagi mereka kelak.





Setelah penyelenggaraan acara buffet ini, diharapkan mahasiswa S1 International Culinary Business, selain bisa membuat produk kuliner dan cost control, juga bisa belajar menciptakan peluang bisnis kuliner yang siap bersaing dipasaran. Ingin bisa seperti mereka ? Sekolah S-1 International Culinary Business bisa jadi pilihan untuk pendidikan kuliner & bisnis. *Upi



S1 Education Program
“International Culinary Business”

IEU (Indonesian European University)
Surabaya || Jl. Raya Dukuh Kupang No. 157B

Graha Tristar || Jl. Raya Jemursari 244 Surabaya
Ph. 081233752227 – 081234506326
Blackberry PIN : 2A1CE131 ; 2B517ECB ; 2B425821 ; 53B4EFD8













Jumat, 29 Mei 2015

Pelatihan UKM : Jamu Tradisional di Tristar Institute



Erni Yuniati Rintis Usaha Jamu Tradisional

Kursus Private di TCI

UPAYA melestarikan minuman jamu tradisional yang menyehatkan dan menyegarkan badan, mendorong Erni Yuniati (35) untuk merintis usaha jamu skala rumah tangga (home industry) sejak dua tahun terakhir di Purwosari Kabupaten Pasuruan. Usaha rumahan jamu dengan merk Si Mbok  yang dirintis Erni Yuniati sampai saat ini baru mempekerjakan dua orang.


Tantangan yang sampai saat ini belum terpecahkan adalah bagaimana membuat jamu tradisional Jawa seperti beras kencur, kunci suruh, sinom dan temulawak, yang diproduksinya itu bisa tahan lama. Selama ini, produksi jamu tradisional dalam kemasan tanpa bahan pengawet yang diproduksinya hanya sanggup bertahan 10 hari saja.
Padahal beberapa waktu lalu dirinya menerima tantangan dari sejumlah klien untuk memasok toko swalayan bagaimana jamu yang diproduksinya itu bisa tahan lebih lama saat di-display di outlet-outlet toko swalayan di Jatim, Bali hingga Kalimantan.

”Untuk mencari solusi atas kendala tersebut kami searching di internet, ternyata kami mendapat info jika Tristar Culinary Institute (TCI) sanggup membantu mengatasi sekaligus memberikan tips bagaimana mengatasi terbatasnya daya tahan jamu tradisional dalam kemasan,” terang Erni, sapaan akrab Erni Yuniati kepada matoasbynews.blogspot.com, kemarin.


Makanya tidak salah jika kemudian dirinya memutuskan mengambil kursus private jamu tradisional dengan biaya Rp 1,5 jutaan. Materi pelatihannya sendiri meliputi tata cara membuat jamu beras kencur, kunci suruh, sinom dan temulawak baik dan benar sesuai ketentuan Good Manufacturing Practices (GMP). Pelatihan teknologi pangan itu dihelat di laboratorium TCI Jl Raya Jemursari 234 Surabaya, Rabu (14/4).

Selama pelatihan tersebut, Erni Yuniati dibimbing langsung oleh instruktur senior TCI, Sari Kusumahati Ssi, Apt dibantu asisten Ir Indah Fitriana. Pelatihan yang lebih mengedepankan sharing ilmu itu berjalan lancar sejak persiapan bahan baku dan peralatan, proses produksi hingga teknik pengemasannya dalam botol serta tips mengolah usaha jamu tradisional dalam skala rumah tangga.

Biasanya, menurut Sari Kusumahati, dalam merintis usaha rumahan (home industry) makanan dan minuman, kendalanya antara lain adalah lemahnya pengetahuan bahan, minimnya pengetahuan soal sterilisasi karena kondisi dapur yang terkontaminasi jamur dan bakteri, teknik pengemasan yang masih apa adanya, kualitas produk yang belum bisa diandalkan hingga penanganan yang kurang hati-hati selama pendistribusian barang.

Untuk persiapan bahan baku yakni tanaman kencur, daun sinom, temulawak, kunci, daun suruh (sirih), buah asam, jahe, produsen minuman jamu tradisional wajib tahu dari pemasok seputar kapan panen, musim hujan atau kemarau (karena ini terkait dengan kandungan kimiawi bahan baku tersebut) hingga bagaimana cara penyimpanan bahan baku tersebut agar kualitasnya tetap terjaga dengan baik.

”Idealnya, untuk menjaga kualitas bahan baku terjaga dengan baik, bahan baku jamu untuk stok itu disimpan dalam freezer. Ini punya peranan tidak kecil dan tidak bisa diabaikan begitu saja karena ini akan mempengaruhi kualitas jamu yang diproduksi,” ujar Sari Kusumahati, memberi tips.


Selain itu, lanjut Sari, untuk mengatasi hambatan ketahanan jamu kemasan saat disimpan sebelum dikonsumsi, pengetahuan terhadap bahan pendukung dan bahan penolong seperti penggunaan bahan pengawet minuman Na­-Benzoat (setiap 1 liter olahan jamu ditambah 0,05 gram Na-Benzoat). Penambahan Na-Benzoat sampai dosis tertentu ke dalam bahan jamu akan menambah daya tahan jamu kemasan sampai setahun.

”Begitu juga penggunaan pemanis buatan Siklamat (1 gram Siklamat = 100 gram gula pasir) atau Aspartam (1 gram Aspartam = 200 gram gula pasir) dengan alasan menghemat biaya pengadaan gula pasir untuk pemanis jamu. Penggunaan bahan pengawet minuman dan pemanis buatan jadi bahan pertimbangan karena hal ini juga terkait dengan aspek perlindungan konsumen,” jelasnya.

Tips lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana melakukan tindakan sterilisasi botol kemasan sebelum diisi jamu. Untuk melakukan teknik sterilisasi yang hemat, Anda cukup  menggunakan alkohol 70 persen 600 ml untuk menyeterilkan 1.000 botol ukuran 600 ml dan tutup dengan teknik sederhana, mulai celup, isi (tuang), kocok, bilas dan keringkan di tempat bersih dengan posisi terbalik.



”Sterilisasi ini tujuannya untuk membunuh kuman-kuman penyakit baik jamur dan bakteri yang bisa menyerang makanan dan minuman olahan, akibat penanganan yang kurang baik selama proses produksi sehingga makanan dan minuman itu terkontaminasi,” katanya mengingatkan. (ahn)

Pelatihan Pembuatan Kapal Speedboat dari Fiberglass



TCI Layani Pelatihan Membuat Speedboat

Materialnya dari Fiber Glass

TRISTAR Culinary Institute (TCI) selama delapan hari sejak 20 April hingga 27 April 2015  melayani pelatihan membuat model miniatur kapal boat (speedboat) dari bahan fiber glass kepada tujuh orang karyawan perusahaan budidaya mutiara Firma Nusantara Group, dengan dipandu langsung oleh instruktur TCI Muhammad Ashari.

Yang tampak istimewa dari pelatihan itu, selain diikuti karyawannya, Manager Firma Nusantara Sin Ci dan Alam asistennya, ikut proaktif mendampingi pekerjanya, karena mereka juga jadi peserta pelatihan pembuatan speedboat yang mengambil tempat di area parkir TCI Jl Raya Jemursari No. 234 Surabaya.

Sebelum memutuskan belajar mengikutkan karyawannya belajar membuat speedboat di Surabaya, kelompok usahanya yang punya enam perusahaan budidaya mutiara di Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku dan Papua selama ini cenderung membeli speedboat untuk mendukung operasional di lapangan.

”Saat ini, kami baru mengoperasikan 11 unit speedboat.  Jumlah tersebut dirasa masih kurang karena tantangan budidaya mutiara di Indonesia Bagian Timur cukup berat terutama dalam menghadapi aksi perompakan dan ganasnya ombak di seputar kawasan budidaya mutiara,”  ungkap Sin Ci, Manager Firma Nusantara Group kepada matoasbynews.blogspot.com di sela-sela pelatihan kemarin.

Dari seluruh speedboat yang dioperasikan kelompok usaha Firma Nusantara semuanya dipesan dari Jakarta. Nah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2015 ini, perusahaan berencana membuat sendiri speedboat untuk mendukung operasional sehari-hari.

”Untuk itu kami mengajak beberapa karyawan yang akan ditugaskan memproduksi speedboat sendiri, disekolahkan lebih dulu di sini dan mereka kami damping langsung agar semangat  kerjanya tidak kendor,” kata Sin Ci di dampingi asistennya Alam, serta instruktur dari TCI Muhammad Ashari dan Nursanti.

Pada tahap pertama, pihak perusahaan baru mengirimkan 6-7 karyawan untuk mengikuti pelatihan membuat speedboat dari bahan fiber glass ini. Namun di masa mendatang tidak menutup kemungkinan jika pihak perusahaan akan mengirimkan karyawannya yang lain untuk mengikuti pelatihan membuat speedboat ke Jawa.

”Seluruh biaya pelatihan ditanggung perusahaan.  Biaya pelatihan yang dipatok TCI sekitar Rp 8,75 juta per orang selama delapan hari kerja. Biaya itu sudah termasuk sertifikat dan makan siang.  Bahan-bahan dan peralatan pelatihan mulai tripleks, resin untuk bodi kapal, cat, foam, dan sebagainya disediakan TCI ,” ujarnya.

Muhammad Ashari dari TCI menerangkan bahwa pelatihan membuat speedboat ini baru sebatas model bukan ukuran yang sesungguhnya. Karena itu, pelatihan selama delapan hari merupakan batasan minimal untuk membuat model miniatur speedboat berukuran panjang 2,1 meter dengan lepas 1,05 meter.

Peserta pelatihan dibekali pengetahuan dasar tentang pemilihan bahan yang tepat  untuk skala marine. Untuk membuat model (desain kapal) bisa secara manual dan komputerisasi. Untuk memudahkan praktik secara manual, pihaknya membuat simulasi dari bahan stereofoam (gabus) baik foam biasa maupun liquid foam.

Selain itu, tripleks dengan ketebalan 12 milimeter  dipotong sesuai kebutuhan untuk membuat cetakan lunasnya baik cetakan dalam maupun cetakan luar (cup). Karena itu, jika mengacu pada ukuran speedboat sesungguhnya yakni panjang 8-9 meter dan lebar 2,1 meter dengan dilengkapi mesin tempel 100 PK x 2, maka pekerjaannya sejak awal sampai finishing membutuhkan waktu sampai tiga sampai empat bulan.

Sementara itu penggunaan mesin tempel 100 PK x 2 dimungkinkan karena speedboat ini selain untuk mendukung operasional sehari-hari juga untuk patroli  karena ancaman perompak di area budidaya mutiara cukup tinggi. ”Pasalnya kapa boat penjahat rata-rata memiliki kecepatan 85 PK x 2, maka kami menyiapkan speedboat yang berkapasitas mesin 100 PK x 2 agar bisa mengejar penjahat,” ungkap Sin Ci menambahkan.

”Berdasarkan pengalaman kami melayani pesanan klien, rata-rata pembuat speedboat dengan ukuran standar butuh waktu empat bulan baru barangnya diserahkan kepada pihak pemesan. Beberapa pembuat speedboat yang kami ketahui yakni Javanese Boat, Boat Indonesia (keduanya di Jakarta) dan Fiberindo (Surabaya),” terang Ashari sapaan karib Muhammad Ashari.

Pihak TCI juga membekali peserta pelatihan tentang pengenalan resin untuk standar kapal (resin untuk marine). Untuk lambung kapal boat ukuran panjang 9 meter dan lebar  2,1 meter, lapisan resin dirancang sampai 7 layer, sedangkan  lapisan bawah (dasar kapal) tebal lapisannya antara 8-9 layer. Speedboat ukuran ini bisa dimuati 4-5 orang plus sejumlah barang dan peralatan kerja.

Masih menurut Ashari, resin secara umum bisa juga untuk membuat souvenir seperti patung-patungan dan aneka model cendera mata yang lainnya. (ahn)